(Tumblr user: go to Customize appearance > Edit HTML)

Sabtu, 23 April 2016

Indonesia Masih Nomor 5 Kualitas Tenaga Kerjanya di Asia

<span class='titleimage2'>Ilustrasi (sumber foto: kreditgogo.com)</span>

Denpasar - Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kementerian Pariwisata HM Ahman Sya saat ditemui di Denpasar, Jumat (22/4/2016) menjelaskan, hingga saat ini secara kualitas, tenaga kerja pariwisata Indonesia masih menempati posisi nomor 5 di Asia. Padahal secara kuantitas, Indonesia menempati posisi nomor satu di Asia. "Secara kuantitas, tenaga kerja pariwisata Indonesia menduduki nomor satu. Sebaliknya secara kualitas, Indonesia masih menempati posisi nomor 5. Bahkan kita masih dikalahkan oleh tenaga kerja asal Filipina," ujarnya.

Biasanya tenaga kerja pariwisata Indonesia perlu meningkatkan kualitas di bidang penguasaan bahasa asing, kemampuan IT dan manajemen, "Ketiga hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi tenaga kerja Indonesia dan sekaligus bagi pemerintahan. Makanya, pemerintahan akan berupaya sedemiian rupa untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja Indonesia pada masa yang akan datang," Jelasnya. 

Menurutnya, Menteri Pariwisata bahkan pernah menyuruhnya untuk belajar ke Filipina agar melihat secara langsung bagaimana negara tersebut mendidik dan melatih tenaga kerjanya bukan hanya di bidang pariwisata tetapi untuk seluruh sektor kerja lainnya. Khusus untuk sektor pariwisata, pihak kementerian sudah menargetkan dengan berbagai program dan kurikulum agar tahun 2017, kualitas tenaga kerja Indonesia meningkat di urutan ketiga Asia dan tahun 2020 harus meraih peringkat nomor satu di Asia. "Ini sudah komitmen pemerintah untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja di Indonesia. Tiga hal utama yakni penguasaan bahasa asing, penguasaan IT, dan manajemen akan menjadi perhatian utama pemerintah." ujarnya lagi.

Namun demikian, beberapa perguruan tinggi pariwisata yang ada dibawah Kementerian Pariwisata sudah menunjukkan kualitasnya. Beberapa sekolah favorite antara lain STP Nusa Dua Bali, STP Bandung dan Jakarta. "Di STP Bali, 30 persen mahasiswanya bekerja di luar negeri. Di STP Bandung bahkan 40 persen mahasiswanya bekerja di luar negeri. Hal yang sama juga terjadi dengan STP lainnya yang berada di bawah Kementerian Pariwisata," ungkapnya. 

Bahkan di luar negeri tamatan STP selalu menjadi contoh, teladan dan pemimpin. Sementara yang tidak keluar negeri tidak ada yang menganggur. Semuanya bekerja. Ke depan, Kementerian Pariwisata akan mencetak tenaga kerja pariwisata yang bukan saja sebagai pekerja pariwisata tetapi sebagai pemikir dan pemimpin. "Pemerintah ingin agar tamatan STP harus menjadi pemimpin di bidang pariwisata," Pungkasnya.