Nusa Dua. Ketua Badan Pimpinan Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, pembangunan pariwisata Bali kini mulai meninggalkan kearifan lokal.
"Di Bali, kami mengalami hal rancu. Dulu konsep pariwisata budaya. Sekarang pembangunan melemahkan budaya Bali," ungkapnya.
Saat ini, Bali justru mengacu pada pembangunan yang telah dilakukan oleh Singapura dan Hong Kong. Pada saat yang sama, konsep pembangunan itu menggerus kearifan lokal yang sekian lama terjalin di Bali.
"Kita berorientasi pembangunan Singapura dan Hong Kong. Kita meninggalkan kearifan lokal. Kita harap saran Pak Menteri agar Bali tak meninggalkan itu, sekaligus menunjukkan kebhinekaannya," tandasnya.
Menurut pria yang karib disapa Cok Ace, di saat pemerintah tengah gencar mendorong destinasi 10 wilayah, di Bali justru terjadi kegamangan. Saat ini, kata Cok Ace, pemerintah optimistis mampu mendatangkan 20 juta wisatawan pada tahun 2019.
"Salah satu hal yang menarik minat wisatawan ke Indonesia adalah keindahan alamnya. Kebhinekaan kita juga salah satu daya tarik," kata Cok Ace dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Tahun 2016 PHRI di Nusa Dua, Bali, Kamis (21/4/2016).
Hanya saja, ujar Cok Ace, dirinya belum melihat konsep detail planing keseluruhan pembangunan pariwisata Indonesia.
"Saya belum lihat detil plan keseluruhan pembangunan pariwisata Indonesia," jelasnya. [bbn/dws]
